In Sha Allah atau Insya Allah ?

๐ŸŒ Majlis Al Hidayah
๐Ÿ“š Kajian Umum
โœ Gus Ahmad Rifai
๐Ÿ”Ž In Sha Allah atau Insya Allah ?

A. Pendahuluan

Mengucapkan Insya Allah merupakan sesuatu yang disyariatkan didalam Islam apabila kita memiliki rencana atau janji.

๐Ÿ“Dalam hal ini Allah swt berfirman :
ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ููˆู„ูŽู†ูŽู‘ ู„ูุดูŽูŠู’ุกู ุฅูู†ูู‘ูŠ ููŽุงุนูู„ูŒ ุฐูŽูฐู„ููƒูŽ ุบูŽุฏู‹ุง ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡
โ€œDan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: โ€œSesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): โ€œInsya Allahโ€ (jika Allah berkehendak). (QS. Al Kahfi 24-25)

๐Ÿ“Ibnu Katsir menjelaskan ayat diatas dalam tafsir beliau,
ู‡ุฐุง ุฅุฑุดุงุฏ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู„ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅู„ู‰ ุงู„ุฃุฏุจ ููŠู…ุง ุฅุฐุง ุนุฒู… ุนู„ู‰ ุดูŠุก ู„ูŠูุนู„ู‡ ููŠ ุงู„ู…ุณุชู‚ุจู„ ุฃู† ูŠุฑุฏ ุฐู„ูƒ ุฅู„ู‰ ู…ุดูŠุฆุฉ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ุนู„ุงู… ุงู„ุบูŠูˆุจ ุงู„ุฐูŠ ูŠุนู„ู… ู…ุง ูƒุงู† ูˆู…ุง ูŠูƒูˆู† ูˆู…ุง ู„ู… ูŠูƒู† ู„ูˆ ูƒุงู† ูƒูŠู ูŠูƒูˆู†
Inilah petunjuk Allah Taโ€™ala kepada Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wasallam tentang adab tatkala beliau berkeinginan kuat akan sesuatu dan pasti akan melakukan perbuatan tersebut diwaktu mendatang maka hendaknya diikuti dengan ucapan insyaallah. Karena Dialah dzat yang mengetahui perkara ghaib, mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, segalasesuatu yang akan terjadi, segala sesuatu yang tidak terjadi dan bagaimana sesuatu yang tidak terjadi tersebut seandainya terjadi.

๐Ÿ“Tetapi akhir-akhir ini banyak orang yang memperdebatkan penulisan kalimat
ุฅูู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ู‡
dalam bahasa indonesia dengan menggunakan huruf latin.

Lazimnya, orang menggunakan “Insya Allah” untuk menuliskannya. Tapi, kemudian muncul orang-orang yang mempermasalahkannya dengan membawa gambar/foto dari Da’i kondang berasal dari India yang didalam gambar/foto tersebut diterangkan bahwa kalimat tersebut memiliki arti yang keliru jika ditulis dengan “Insya Allah”, yang benar adalah In Sha Allah.

Terlepas apakah itu benar pendapat beliau atau tidak, tetapi didalam gambar/foto tersebut dinyatakan bahwa apabila
ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡
ditulis dengan “Insya Allah” maka akan mengandung arti menciptakan Allah, sehingga penulisan yang benar adalah In Sha Allah.

Bagaimana yang sebenarnya ?
=======
Berikut jawabannya :
1. Kalimat dalam Bahasa Arab memang paling “pas” ditulis dengan menggunakan tulisan Arab. Tetapi ketika bahasa arab ditulis dengan tulisan latin, maka harus menggunakan transliterasi (pelambangan huruf) yang sudah menjadi kesepakatan bahwa huruf tersebut mewakili huruf arab.

Seperti contoh
Huruf “ุจ” dilambangkan dengan B
Huruf “ุช” dilambangkan dengan T
Huruf “ุฌ” dilambangkan dengan J
Dan seterusnya.

2. Transliterasi huruf “ุด” yang menjadi masalah dalam hal ini sebagaimana dalam kalimat
“ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡”
dilambangkan dengan huruf “sy”.

Sekali lagi, huruf “ุด” apabila dituliskan dalam huruf latin adalah dengan “sy”

Maka kita tulis kalimat syukur dengan “sy”, kalimat sya’ban, syahadat, syuhada’, syahid, tamasya, isya, karena memang sudah menjadi kesepakatan para ahli bahwa huruf “ุด” dilambangkan dengan “sy” bukan “sh”

Sehingga apabila “ุด” dilambangkan dengan “sh” seharusnya penulisannya adalah shukur, sha’ban, shahadat, shuhada’, shahid, tamasha, isha, menjadi aneh bukan ?

3. Orang yang mengatakan bahwa “Insya Allah” mengandung arti “menciptakan Allah” dengan tulisan arab sebagai berikut :
ุฅูู†ู’ุดูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ู‡
Sungguh aneh.
Kenapa ? Pertanyaannya adalah kenapa ia membaca dengan menggunakan harokat fathah (ุฅูู†ู’ุดูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ู‡ ) ?

Harusnya kalau ia paham nahwu shorof, jika tulisan “Insya Allah” dipaksakan memiliki arti “menciptakan Allah” (thukul dalam bahasa jawa, “thukule Gusti Allah”) maka ia memiliki kedudukan rofa’ dengan menggunakan dhommah menjadi Insya ulloh (ุฅูู†ู’ุดูŽุงุกู ุงู„ู„ู‡ ) karena terletak diawal kalimat.

Sehingga kalimat “Insya Allah” dengan harokat fathah tersebut tidak mengindikasikan bahwa itu merupakan mashdar (insya-u) tetapi mengindikasikan bahwa kalimat tersebut menjadi fi’il madhi (sya-a) yang berarti “berkehendak”

๐Ÿ“Maka kesimpulannya kalimat “Insya Allah” untuk melambangkan
(ุฅูู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ู‡)
sudah benar menurut transliterasi yang baku di Indonesia, dan kalau mau diperbaiki, dengan cara menambah spasi yaitu menjadi In Sya Allah.
Silahkan pilih Insya Allah atau In Sya Allah, memiliki arti “Jika Allah Berkehendak”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

๐Ÿ’Diizinkan untuk menyerbarluaskan artikel ini dengan meng-copy / share secara KESELURUHAN
๐ŸŒKunjungi www.majlisalhidayah.org
Instagram : @buyasoni
Telegram : @buyasoni
Facebook : Buya Soni
Youtube : Buya Soni
===
Mau dapat broadcast kajian Islam via WhatsApp ? Gratis !
Terlalu banyak grup ? Jangan khawatir karena ini bukan grup, tapi broadcast via chat.

Silahkan daftarkan nomor whatsapp anda dengan mengirim chat via whatsapp ke nomor :
085647331325
Jangan lupa sertakan nama dan alamat ya !

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*