KUPAS TUNTAS ZAKAT FITRAH MADHZAB SYAFI’I oleh UST. H. SONI PARSONO

KUPAS TUNTAS ZAKAT FITRAH oleh UST. H. SONI PARSONO

ZAKAT FITRAH

Zakat adalah salah Satu dari lima hal yang merupakan A’zham umur al Islam (lima perkara yang paling agung dalam Islam) yang disebut dalam hadits Jibril ketika beliau mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya (dengan tujuan memberi pelajaran bagi para sahabat) mengenai Iman, Islam dan Ihsan. Karena itu, eksistensi zakat tidak bisa dipisahkan dari bangunan ajaran agama Islam. Zakat adalah hak dalam harta seseorang untuk mereka yang berhak menerimanya (Mustahiqqun) atau sesuatu yang diwajibkan atas jiwa setiap muslim dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Yang pertama dikenal dengan istilah Zakat Mal (harta benda) dan yang kedua adalah Zakat al Fithr(Zakat Fitrah). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al Baihaqi dengan sanad yang para rawinya tsiqah (terpercaya) bahwa: “Puasa menggantung antara langit dan bumi selagi belum dibayar zakat Fitrah”. Ini tidak berarti bahwa bila tidak dibayar zakat fitrahnya maka puasa kita sama sekali tidak diterima, melainkan yang dimaksud adalah bahwa puasa tersebut tidak mendapat pahala yang sempurna. Untuk lebih jelasnya pembahasan mengenai zakat fitrah ini, berikut penjelasannya.
Download mp3 Rekaman Kajiannya di sini.
KUPAS TUNTAS ZAKAT FITRAH MADHZAB SYAFI’I oleh UST. H. SONI PARSONO

A. Syarat Wajib
1. Islam
2. Merdeka (bukan budak, hamba sahaya)
3. Mampu
Yaitu memiliki harta lebih dari :
a. Kebutuhan makan dan kebutuhan pokok pada malam tanggal 1 Syawal (malam ‘Ied) dan siang tanggal 1 Syawal (hari ‘Ied) untuk dirinya dan orang yang wajib dinafkahi , yaitu :
(1) Anak yang belum baligh dan tidak memiliki harta
(2) Anak yang sudah baligh tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri (cacat fisik)
(3) Orang tua keatas dan anak kebawah yang sudah tidak mampu bekerja dan tidak memiliki harta (4) Istri yang sah
(5) Istri yang sudah ditalak roj’i (istri yang pernah dikumpuli dan ditalak 1 atau 2) selama masa iddah
(6) Istri yang ditalak ba’in (istri yang ditalak 3) dalam keadaan hamil
(7) Makanan hewan peliharaan
(8) Ayah/Ibu tiri yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri
(9) Anak tiri yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri
b. Hutang untuk makan dan kebutuhan pokok, meskipun belum jatuh tempo
c. Tempat tinggal yang layak, meskipun bukan miliknya sendiri
~Jika seseorang memiliki kelebihan harta tetapi tidak mencukupi untuk fitrah seluruh keluarganya, maka dikeluarkan sesuai urutan berikut : dirinya sendiri, istri, anak yang belum baligh, orangtua yang tidak mampu, anak yang sudah baligh dan tidak mampu.
4. Menemui waktu wajib
Yaitu jika seseorang menemui bulan Romadlon meskipun sebentar (sesaat sebelum adzan maghrib malam Hari Raya) dan menemui bulan Syawal meskipun sebentar (sesaat setelah adzan maghrib malam Hari Raya), maka wajib membayar zakat fitrah.
B. Jenis dan Kadar
1. Berupa bahan makanan pokok daerah tersebut (bukan uang)
2. Sejenis.
Maksutnya adalah tidak boleh mencampur beberapa makanan pokok dalam satu zakat seperti contoh mencampur beras dengan singkong. Akan tetapi jika mencampur beras bagus dengan beras kurang bagus, diperbolehkan asalkan bukan beras yang tidak layak makan .
3. Per orang wajib membayar 1 Sho’
1 Sho’ = 4 mud, 1 mud = 0,6 Kg/6 Ons, Sehingga 1 Sho’ = 2,4 Kg (Dibulatkan menjadi 2,5 Kg)
4. Memberikan zakat kepada orang yang berada di satu balad (kecamatan) dengan dirinya saat perpindahan bulan Romadlon ke Syawal. Kecuali jika dii satu kecamatan tersebut tidak ada orang yang berhak menerima zakat (8 asnaf), maka diperbolehkan memberikan zakat kepada orang diluar kecamatan. Adapun jika didalam kecamatan tersebut tidak terdapat orang yang berhak menerima zakat, maka boleh memberikan zakat kepada orang yang berada di luar kecamatan asalkan daerah tersebut tidak lebih dari 82 Km (masafatul qoshri).
C. Waktu Mengeluarkan
Waktu pelaksanaan mengeluarkan zakat fitrah terbagi menjadi 5 kelompok :
1. Waktu Wajib
Seseorang di WAJIB kan mengeluarkan zakat fitrah, jika orang tersebut menemui bulan Ramadhan walaupun sebentar dan menemui bulan Syawal walaupun sebentar. Oleh sebab itu orang yang meninggal setelah maghribnya malam 1 Syawwal dan bayi yang lahir sebelum maghribnya malam 1 Syawwal, wajib dizakati. Sedangkan orang yang mati sebelum maghribnya malam 1 Syawal dan bayi yang lahir setelah maghribnya malam 1 Syawwal, tidak wajib dizakati.
2. Waktu Jawaz
Seseorang di BOLEH kan mengeluarkan zakat fitrah sejak awalnya bulan Ramadhan, dengan syarat orang yang diberi zakat, tetap termasuk 8 asnaf dan tetap mukim saat perpindahan tanggal 1 Syawal. Sehingga orang yang mengeluarkan zakat fitrah sebelum bulan Ramadhan, maka tidak sah.
3. Waktu Fadhilah
Adalah waktu yang paling diutamakan untuk mengeluarkan zakat, yaitu setelah terbit fajar hari ied sampai sebelum sholat hari raya.
4. Waktu Makruh
Seseorang di MAKRUH kan membayar zakat fitrah pada waktu setelah sholat ied sampai waktu maghrib pada tanggal 1 Syawal. Tidak menjadi makruh jika ada udzur seperti menanti kerabat atau orang yang lebih membutuhkan.
5. Waktu Haram
Batas akhir mengeluarkan zakat adalah maghrib perpindahan tanggal 1 ke tanggal 2 Syawal. Seseorang yang pada waktu tersebut belum mengeluarkan zakat fitrah, dirinya berdosa dan tetap wajib mengeluarkan zakat sebagai qodho’ (pengganti).
D. Syarat Sah
1. Niat
Letak niat adalah didalam hati dan sunnah dilafadzkan. Sedangkan waktu niat adalah ketika menyerahkan zakat kepada yang berhak atau ketika memisahkan beras sebagai fitrah atau ketika menyerahkan zakat kepada wakil (panitia zakat).
Jika niat zakat fitrah atas nama orang lain, maka :
a. Jika menzakati orang lain yang termasuk tanggungannya, maka diperbolehkan berniat tanpa harus meminta izin kepada orang yang dizakati . Atau boleh dengan cara memberikan beras kepada masing-masing orang yang dizakati untuk kemudian diniati sendiri-sendiri. Adapun orang-orang yang boleh dibayar zakatnya tanpa izin adalah :
1. Anak yang belum baligh dan tidak memiliki harta
2. Anak yang sudah baligh tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri (cacat fisik)
3. Orangtua keatas dan anak kebawah yang sudah tidak mampu bekerja dan tidak memiliki harta
4. Istri yang sah
5. Istri yang sudah ditalak roj’i (istri yang pernah dikumpuli dan ditalak 1 atau 2) selama masa ‘iddah
6. Istri yang ditala’ ba’in (istri yang ditalak 3) dalam keadaan hamil
b.Jika menzakati orang lain yang tidak termasuk tanggungannya, maka diwajibkan meminta izin terlebih dahulu kepada orang yang dizakati. Tetapi jika orang yang dizakati tidak berada di satu kecamatan dengan orang yang mengeluarkan zakat saat perpindahan malam hari raya, maka zakat fitrah harus diberikan kepada yang berhak yang berada di satu kecamatan dengan orang yang dizakati.

– Niat zakat untuk diri sendiri :
نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ نَفْسِيْ
Nawaitu an ukhrija zakaatal fithri ‘an nafsii. Saya niat mengeluarkan zakat untuk diriku
– Niat zakat untuk orang lain :
نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ فُلَان بِنْ فُلَان / فُلَانَة بِنْتِ فُلَانَ
Nawaitu an ukhrija zakaatal fithri ‘an fulan bin fulan / fulanah binti fulan. Saya niat mengeluarkan zakat untuk Fulan bin Fulan / Fulanah binti Fulan

2. Diberikan kepada orang-orang yang berhak menerima zakat
a. Fakir
Fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta dan penghasilan sama sekali, atau orang yang mempunyai penghasilan namun tidak bisa mencukupi 50% / separuh dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang ditanggung nafkahnya.
b. Miskin.
Miskin adalah orang yang mempunyai harta atau penghasilan namun tidak bisa mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan orang yang ditanggung nafkahnya. Atau orang yang tidak bisa mencukupi 80% dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang ditanggung nafkahnya.
c. Amil
Amil adalah orang atau badan yang diangkat/ditunjuk/diakui oleh Pemerintah melalui Kementerian Agama untuk mengelola zakat dan tidak mendapat bayaran dari baitul mal atau negara . Jumlah zakat yang diterima oleh amil disesuaikan dengan pekerjaan yang dilakukan alias memakai standart ujroh mistly (bayaran sesuai tugas kerjaannya masing-masing).
Syarat amil zakat :
(1) Islam
(2) Laki-laki
(3) Merdeka
(4) Mukallaf
(5) Adil
(6) Bisa melihat
(7) Bisa mendengar
(8) Paham fiqih zakat
(9) Ditunjuk oleh pemerintah melalui Kementerian Agama
d.Muallaf
Yang termasuk dikategorikan sebagai muallaf adalah :
(1) Orang yang baru masuk Islam dan Imannya masih lemah
(2) Orang yang sudah lama masuk Islam tetapi imannya masih lemah
e. Budak mukatab
Budak mukatab yaitu budak yang dijanjikan merdeka oleh tuannya apabila sudah melunasi sebagian jumlah tebusan yang ditentukan dengan cara angsuran. Diberikan zakat dengan tujuan untuk membantu melunasi tanggungan dari budak mukatab tersebut. Pada jaman sekarang, perbudakan sudah tidak ada, sehingga kategori ini tidak ditemukan lagi.
f. Ghorim (orang yang berhutang)
Yang termasuk dikategorikan sebagai ghorim adalah :
(1) Orang yang berhutang untuk mendamaikan dua orang atau dua kelompok yang sedang bertikai.
(2) Orang yang berhutang untuk kemaslahatan diri sendiri dan keluarga (untuk makan dan kebutuhan pokok)
(3) Orang yang berhutang untuk kemaslahatan umum, seperti berhutang untuk membangun masjid, sekolah, jembatan dan lain-lain.
(4) Orang yang berhutang untuk menanggung hutangnya orang lain.
g. Sabilillah
Yaitu orang yang berperang di jalan Allah dan tidak mendapatkan gaji. Sabilillah berhak menerima zakat untuk seluruh keperluan perang. Sejak berangkat sampai kembali, sabilillah dan keluarganya berhak mendapatkan tunjangan nafkah yang diambilkan dari zakat. Sedangkan yang berhak memberikan zakat untuk sabilillah adalah pemimpin/pemerintah bukan langsung diberikan oleh pemilik zakat.
Para da’i, Kyai, Ustad, santri, penuntut ilmu, dsb tidak dikategorikan sebagai sabilillah. Sehingga tidak diperkenankan menerima zakat kecuali jika mereka termasuk dari golongan penerima zakat dari kategori yang lain.
h. Ibnu sabil (musafir)
Yaitu orang yang memulai bepergian dari daerah tempat zakat atau musafir yang melewati daerah tempat zakat. Diberikan zakat dengan syarat bukan bepergian untuk maksiat dan membutuhkan bekal untuk melanjutkan perjalanan.
E. Syarat penerima zakat
1. Islam
2. Berakal
3. Rosyid
Adalah memiliki kemampuan untuk mengelola zakat yang diberikan kepadanya. Sehingga, zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang gemar menghambur-hamburkan harta yang dimiliki. Tetapi, zakat tersebut dialihkan kepada wali / penanggung jawab dari orang tersebut.
4. Baligh
Tidak diperbolehkan memberikan zakat kepada anak yang belum baligh, termasuk diantaranya adalah anak yatim meskipun fakir/miskin. Jika ingin memberi zakat kepada anak yang belum baligh karena termasuk dari golongan 8 asnaf, maka harus diberikan kepada wali/penanggung jawab dari anak tersebut.
5. Bukan Fasiq (orang yang gemar melakukan dosa)
6. Bukan keturunan dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib
7. Bukan merupakan orang yang ditanggung nafkahnya
Maka tidak sah seperti contoh suami yang memberikan zakat kepada istrinya.
F. Mekanisme pembagian zakat
1. Apabila zakat dibagikan sendiri oleh pemilik atau wakilnya (panitia zakat), maka :
a. Jika orang yang berhak menerima zakat terbatas (bisa dihitung), dan beras zakat mencukupi, maka mekanisme mengeluarkan zakatnya harus mencakup semua golongan penerima zakat yang ada di daerah tempat kewajiban zakat. Dan dibagi rata antar golongan penerima zakat, bukan dibagi rata per orang.
b. Jika orang yang berhak menerima zakat tidak terbatas atau jumlah harta zakat tidak mencukupi, maka zakat harus diberikan pada minimal tiga orang untuk setiap golongan penerima zakat. Semisal jika memberikan zakat kepada golongan fakir, maka harus diberikan kepada minimal 3 orang fakir.
c. Tidak boleh membagikan zakatnya pada orang-orang yang bertempat tinggal di luar daerah kecamatannya. Kecuali jika didalam kecamatannya tersebut sudah tidak ada lagi yang berhak menerima zakat, maka zakat diberikan kepada orang yang bertempat tinggal terdekat dari kecamatannya.
2. Apabila zakat dibagikan oleh Amil (Pemerintah), maka :
a. Semua golongan penerima zakat yang ada di wilayah tersebut harus mendapat bagian.
b. Semua golongan penerima zakat mendapat bagian yang sama, kecuali amil.
c. Masing-masing individu dari tiap golongan penerima mendapat bagian (jika harta zakat mencukupi).
d. Jika hajat dari masing-masing individu sama, maka jumlah yang diterima juga harus sama.

G. Catatan
1. Panitia zakat (bukan amil) tidak diperbolehkan menjual zakat fitrah, karena dirinya sebagai wakil dari orang yang mengeluarkan zakat.
2. Zakat harus diberikan kepada orang/personal, tidak diperbolehkan diberikan kepada badan/ lembaga/ masjid/ pondok pesantren/ dsb.
3. Zakat fitrah yang dikeluarkan harus makanan pokok yang layak untuk dimakan, sehingga tidak sah menggunakan beras yang sudah busuk atau berbau atau berrubah warna atau yang tidak layak makan.
4. Bagi penyalur zakat, hendaknya berhati-hati agar beras zakat tidak kebmbali kepada orang yang mengeluarkan zakat/keluarganya.
5. Bagi orang yang berhak menerima zakat, maka wajib bagi dirinya dan keluarganya untuk berzakat jika memenuhi 4 kriteria sebagaimana didalam Syarat Wajib.
6. Zakat tidak diperbolehkan diberikan kepada Ustad, Kyai, Guru ngaji, santri, dsb kecuali jika mereka termasuk dari golongan 8 asnaf.
7. Panitia zakat harus memastikan bahwa setiap orang yang menitipkan zakat kepadanya harus tersalurkan kepada minimal 3 orang asnaf terkait
8. Panitia zakat harus menanyakan tiap orang yang menitipkan zakat kepadanya tentang niat zakat.

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*